Tanggapan pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Jateng

Tanggapan terhadap pernyataan Sujarwanto (Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Jateng), Kompas Jawa Tengah 17 April 2008), Pro Kontra Pabrik Semen:

“Komposisi geologis pegungunan kapur bukan wilayah resapan utama air layaknya pegunungan tanah pasir. Hal ini karena pori-pori batu karst tak mampu meresapkan air dalam jumlah besar”

Pernyataan ini sungguh disayangkan jika keluar dari seorang pejabat yang menangani masalah pertambangan. Padahal bukit karst memiliki fungsi hidrologis yang sangat besar. Ketidak mengertiannya akan sangat menyesatkan.

Pertama, PBB memperkirakan persediaan air sekitar 25 % penduduk dunia merupakan sumber air karst, Ko 1997. Diperkuat dengan penelitian Eko Haryono (dari Kelompok Studi Karst F. Geografi UGM). “Keunggulan mata air karst adalah waktu tunda (time lag) yang panjang antara hujan hingga keluar ke mata air. Bila waktu tunda mata air empat bulan, hujan maksimum yang jatuh Januari akan menghasilkan debit maksimum bulan Mei. Dengan demikian beberapa mata air karst justru debitnya besar saat kermarau.

Keunggulan lain dari mata air karst adalah kualitas air yang relatif baik. Pengukuran sampel air dari 11 mata air karst di Kabupaten Gunungkidul menunjukkan bahwa enam mata air termasuk kategori A dan lima mata air termasuk kategori B. Air dalam kategori A berarti dapat digunakan sebagai sumber air minum langsung tanpa diolah. Sedangkan golongan B kualitasnya di bawah golongan A.

Permasalahan
Sistem hidrologi kawasan karst didominasi oleh drainase bawah permukaan. Air tanah di daerah karst keberadaannya sangat dalam dan tidak mudah diketahui keberadaannya.
Selain itu, air tanah di kawasan karst sangat rentan terhadap polusi. Setiap bahan pencemar yang masuk ke daerah karst cepat sekali tersebar tanpa ada penyaringan. Air permukaan dapat dengan mudah membawa polutan berupa sedimen, sisa pupuk, sisa pestisida, kotoran hewan, limbah domestik, dan limbah industri ke jaringan sungai bawah tanah melului ponor/luweng (lubang masuknya air permukaan ke dalam sistem sungai bawah tanah).

Analisis laboratorium sampel air dari 11 mataair karst di Kabupaten Gunungkidul menunjukkan adanya bakteri coli hingga 9 MPN/l000 ml. Walaupun jumlah tersebut masih jauh di bawah angka yang diperbolehkan-200 MPN/100 ml-pencemaran akan terus naik sejalan dengan perkembangan daerah.

Permasalahan yang juga krusial adalah penambangan batu gamping di kawasan karst. Penambangan yang umumnya dilakukan dengan cara memotong bukit karst akan mengganggu sistem hidrologi kawasan karst, karena tandon air kawasan karst justru berada di bagian atas pada kedalaman 0-50 meter.

Lantas Sujarwanto juga menyatakan “bahwa Pegunungan Kendeng tidak termasuk dalam areal karst kelas satu sesuai Kepmen ESDM yang sesuai peraturan tersebut, kawasan karst kelas satu tidak boleh ditambang.”

Padahal kawasan karst (Kendeng) yang meliputi Pati, Grobogan hingga Blora, memang belum dilakukan penetapan. Ini berarti bahwa di kawasan tersebut kawasan karst tersebut belum dilakukan tahap-tahapan proses penetapannya. Menurut KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1456 K/20/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN KARS MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL , tahapan yang harus dilakukan adalah inventarisasi dan penetapan kawasan lalu penyelidikan dan penetapan klasifikasi kawasan kars. Nampaknya hingga saat ini tahapan-tahapan tersebut belum dilakukan. Dalam Kepmen tersebut juga dicantumkan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan setiap tahap tersebut.

Karena belum dilakukan penetapan, seharusnya tidak boleh ada kegiatan penambangan terselebih dahulu hingga statusnya ditetapkan.

Lagipula, penentuan kelas kawasan karst tersebut bukan hanya mengacu pada air tanah saja, tetapi juga dari sisi arkeologi, biologi, wisata dan lain-lain.

Kawasan Kars Kelas I (pasal 12) merupakan kawasan yang memiliki salah satu, atau lebih kriteria berikut ini :

a. berfungsi sebagai penyimpan air bawah tanah secara tetap (permanen) dalam bentuk akuifer, sungai bawah tanah, telaga atau danau bawah tanah yang keberadaannya mencukupi fungsi umum hidrologi:

b. mempunyai gua-gua dan sungai bawah tanah aktif yang kumpulannya membentuk jaringan baik mendatar maupun tegak yang sistemnya mencukupi fungsi hidrologi dan ilmu pengetahuan;

c. gua-guanya mempunyai speleotem aktif dan atau peninggalanpeninggalan sejarah sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata dan budaya;

d. mempunyai kandungan flora dan fauna khas yang memenuhi arti dan fungsi sosial, ekonomi, budaya serta pengembangan ilmu pengetahuan.

Menilik dari apa yang sudah diinventaris oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), maka sudah cukup untuk menduga bahwa kawasan tersebut memiliki criteria dalam kawasan karst kelas 1. Mereka menginventaris adanya 67 mata air, 12 goa, dan lima tempat bersejarah. (Kompas Jawa Tengah, Rabu 19 Maret 2008 halaman I)

Referensi:

  1. KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1456 K/20/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN KARS MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
  2. NILAI HIDROLOGIS BUKIT KARST oleh Eko Haryono. Makalah dalam seminar Nasional, Eko-Hidrolik, 28-29 Maret 2001, Teknik Sipil, UGM.

~ by Bukit Karst on 18 April 2008.

One Response to “Tanggapan pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Jateng”

  1. mulutmu harimaumu.
    pak pejabat,
    sadar dong..

    peduli dong..

    kalo bukit karst habis,
    kita-kita juga yang susah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: