SELAMATKAN KARST KABUPATEN PATI DAN GROBOGAN !!

Perbukitan batugamping di sekitar perbatasan Kabupaten Grobogan dan Pati, membujur Barat-Timur, memiliki peran dan nilai yang sangat penting bagi ekosistem di kedua kabupaten tersebut. Peran dan nilai yang sebenarnya, jauh lebih besar daripada anggapan bahwa nilai perbukitan itu hanya merupakan tumpukan batugamping raksasa yang menunggu ditambang, dikeruk, diledakkan, dan dikirim ke pabrik semen atau pabrik-pabrik yang lainnya.

Pengrusakan kawasan batugamping ini akan mempengaruhi eksosistem untuk daerah yang jauh lebih luas daripada perkiraan. Ujung-ujungnya, korban terakhirnya adalah umat manusia. Karena Alam memiliki mekanisme pertahanan yang sempurna. Jika tekanan terhadap dirinya makin berat, maka dia akan menyeimbangkan dirinya dengan cara membuat bencana agar dapat mengurangi populasi manusia. Biasanya yang akan mendapat akibat adalah yang tinggal di daerah sekitarnya lebih dahulu. Maka, masyarakat dan pemerintah setempat wajib mempertahankan kawasan ini dari semua ancaman kerusakan. Karena, pada akhirnya mereka lah yang akan secara langsung merasakan akibatnya, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama lagi. Sokur-sokur malah bisa meningkatkan fungsi kawasan ini menjadi lebih baik lagi.

Potensi Sumber Daya Air

Perbukitan batugamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst. Yaitu terdapat bentukan bukit dan lembah yang khas akibat proses-proses pelarutan, terdapat gua-gua, aliran sungai bawah tanah, dan mataair.

Air hujan yang jatuh di perbukitan, akan meresap ke dalam tanah, masuk ke pori dan celah batugamping menjadi aliran pori. Selanjutnya, air mengalir ke tempat yang lebih rendah melalui rekahan dan lorong-lorong besar (gua) maupun kecil, menjadi aliran kanal. Hingga akhirnya, air akan muncul lagi ke permukaan tanah di tempat yang lebih rendah menjadi mataair.

Fisik dan struktur geologi perbukitan ini, dengan sempurna telah menyimpan dan memelihara air, dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal. Sehingga dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat di musim kemarau sampai datangnya musim hujan berikutnya. “Kemampuan bukit karst dan mintakat epikarst pada umumnya telah mampu menyimpan tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan, sehingga sebagian besar sungai bawah tanah dan mataair mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik.”(Haryono, Eko. 2001)

Tak pelak lagi, kawasan karst ini menjadi sebuah tandon air alam raksasa bagi semua mataair yang terletak di kedua kabupaten tersebut.

Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan karst terdapat sebagai sungai bawah tanah, mataair, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah (resurgence). Kawasan karst disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setalah dataran aluvial, volkan, dan pantai.

Mata air epikarst, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam hal:

1.Kualitas air. Air yang keluar dari mataair epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan.

2.Debit yang stabil. Mataair yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir setelah 2-3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil.

3.Mudah untuk dikelola. Mataair epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa

Perbukitan karst bagian Selatan yang masuk di wilayah Kabupaten Grobogan, terdapat tak kurang dari duapuluh mata air dan sungai bawah tanah yang mengalir di dalam gua-gua. Tersebar mulai dari Kecamatan Klambu di ujung Barat hingga Kecamatan Wirosari di ujung Timur.

Di Desa Kemadohbatur (Kecamatan Tawangharjo) saja, terdapat sembilan mata air yang selalu mengalir sekalipun musim kemarau. Sebagian sudah dimanfaatkan memenuhi kebutuhan air baku dan mengairi ladang. Cara pemanfaatannya sederhana, hanya membangun bak penangkap di mataair, lalu mengalirkan airnya ke rumah-rumah menggunakan selang. Hal bisa terlaksana, karena letak mataair tersebut lebih tinggi daripada pemukiman. Bahkan, salah satu mataair, yaitu Sendang Batur, airnya sudah disalurkan oleh PDAM ke kota Kecamatan Tawangharjo yang berjarak lebih dari 10 km.

Untuk warga yang tinggal di kawasan puncak perbukitan, gua yang berada di kawasan ini telah menyediakan sungai bawah tanah di dalamnya. Misalnya aliran sungai bawah tanah yang mengaliri Gua Urang. Salah satu pintu masuk gua ini berada di Dusun Guwo, Desa Kemadohbatur, Grobogan. Gua ini menjadi satu sistem gua, dengan gua vertikal Jemblong Kembang yang termasuk di Wilayah Kabupaten Pati. Alirannya yang sepanjang tahun (perrenial), merupakan potensi sumber daya air yang selalu tersedia sekalipun musim kemarau. Potensi ini masih belum dimanfaatkan. Warga masih membeli atau mengambil air dari mataair di kaki bukit, dengan mengendarai kendaraan bermotor.

Situasi dan kondisi lorong gua horisontal ini cukup sederhana. Apabila diupayakan pemanfaatannya, secara teknis relatip mudah dan murah. Letak aliran sungai bawah tanah ini hanya berkisar 30 meter dari permukaan tanah.

Sebagai pembanding, adalah pemanfaatan air di Luweng Sapen, di Kabupaten Wonogiri. Aliran air di gua vertikal tersebut sudah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku warga sekitar. Lorongnya lebih rumit daripada Gua Urang, karena harus melalui lorong vertikal (pitch) sedalam 28 meter. Atau Luwen Plawan di Kabupaten Gunungkidul yang memiliki kedalaman sekitar 100 meter, dan melalui beberapa pitch.

Di perbukitan karst bagian Utara, yang berada di wilayah Kabupaten Pati, mataair tersebar di beberapa desa di Kecamatan Sukolilo, Kayen, dan Tambakromo. Sebagian besar tetap aktif di musim kemarau.

Sumber Sentul yang berada di Desa Sukolilo, terletak di kaki bukit, ada 2 sumber mata air, sudah di bendung dan di buat sistem irigasi di gunakan oleh penduduk desa setempat.

Sumber Pengilon di Desa Tompegunung, telah dibuatkan bak penampungan permanen. Pada musim kemarau tidak pernah kering. Untuk mencukupi kebutuhan masyarakat desa Duren Sawit.

Sumber Telogodadi di Desa Tompegunung, mengalir ke Desa Jimbaran dan Desa Kedumulyo. Sumber ini terdiri dari 3 buah sumber air, satu diantaranya relatip besar.

Sumber Grenjeng, air keluar dari mulut gua yang berukuran lebar 0,5 m x tinggi 0,75 meter. Pada saat pengamatan, yaitu di musim kemarau debit cukup air besar.

Warga setempat menginventaris ada67 mataair di pusat calon penambangan batugamping pabrik semen.

Peran Ekosistem

Selain potensi sumber daya air, sebagian gua di kawasan karst Grobogan dan Pati merupakan tempat tinggal bagi koloni kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular.

Kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama.” Kata Sigit Wiantoro (Peneliti Kelelawar dari LIPI).

Kita kalkukasi saja, andai ada sekitar seribu ekor kelelawar tentu dapat memakan serangga hingga 4.25 kilogram. Setiap malam! Padahal, di dalam gua yang lingkungannya terjaga, bisa menampung kehidupan ribuan hingga jutaan ekor kelelawar. Seperti yang ada di beberapa gua di Tuban dan Sukabumi. Fungsi kelelawar sebagai pengendali hama, mampu mencapai daerah yang sangat luas karena daya jelajah terbangnya yang tak kurang dari dua puluh kilometer. Karena tingginya nilai kelelawar dalam ekosistem, sudah selayaknya habitat kelelawar ini mendapatkan perhatian yang sangat serius.

Akibat Penambangan Batu Gamping

Jika dilakukan penambangan batugamping, maka volume lapisan tanah dan batuan yang menjadi tempat penyimpanan air tanah (akuifer) pun menjadi berkurang. Secara langsung akan mengurangi jumlah dan masa tinggal (residence time) air di lapisan batuan. Akibatnya, air tidak akan tersedia lagi pada saat sangat dibutuhkan, yaitu pada musim kemarau. Sedangkan di musim hujan, air akan dengan cepat mengalir menuju alur sungai permukaan. Yang akhirnya menjadi penyumbang banjir yang belakangan ini sangat merusak di wilayah ini.

Selain itu, penambangan yang menggunakan peledakan dapat merusak struktur dan sistem penyimpanan air yang sudah didesain dan dibangun secara sempurna oleh Tuhan Yang Maha Pengatur. Akibat getarannya, di suatu tempat rekahan baru dapat terbentuk atau melebar, tetapi di tempat lain, kanal air bawahtanah yang semula, dapat tertutup oleh runtuhan. Akibatnya, air akan mengalir tak beraturan menuju tempat lain, bukan ke mataair yang selama ini sudah ada.

Akibat lain dari getaran, suara, dan gas beracun hasil dari peledakan, akan dapat membunuh dan atau mengusir kelelawar penghuni gua. Padahal, selama ini kelelawar menjadi predator serangga yang berpotensi menjadi hama tanaman padi dan wabah penyakit. Jika pengendali populasi serangga sudah tidak ada, maka tinggal menunggu bencana berikutnya, yaitu hama padi atau wabah penyakit yang langsung mengenai manusia. Krisis pangan yang sudah melanda di negeri kita beberapa tahun terakhir ini, serta penyakit demam berdarah dan chikungunya, akan makin berat disandang oleh warga dan pemerintah kabupaten ini.

Kelelawar pemakan buah, yang selama ini telah membantu penyerbukan dan menyebarkan biji-bijian, yang secara alami telah membantu penghutanan daerah karst yang tandus dan pelestarian tanaman, juga akan tersingkir atau musnah.

Peraturan Pengelolaan Kawasan Karst

Saat ini ada sebuah peraturan nasional menyangkut pengelolaan dan pemanfaatan kawasan karst, yaitu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral NOMOR : 1456 K/20/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN KARS MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL.

Pasal 12 sampai 14 menyatakan, bahwa kawasan karst yang berfungsi sebagai penyimpan air bawah tanah secara tetap (permanen) dalam bentuk akuifer, sungai bawah tanah, telaga atau danau bawah tanah yang keberadaannya mencukupi fungsi umum hidrologi, maka di dalam kawasan tersebut tidak boleh ada kegiatan penambangan.

Lalu apa hubungan antara peraturan pemerintah pusat tersebut dengan kebijakan pemerintah daerah setempat?

Penambangan batugamping dalam skala besar, biasanya dilakukan oleh pabrik semen. Saat ini, lokasi tersebut telah digadang-gadang untuk lokasi penambangan batugamping oleh pabrik semen.

Nah, melihat untung rugi dan resikonya, Pemerintah Daerah seharusnya dapat bijak dalam memilih. Akankah menganggap potensi batugamping hanya sebagai bahan tambang yang hanya menguntungkan dalam jangka waktu pendek dan dapat habis. Atau akan mengkonservasi perbukitan itu serta meningkatkan fungsinya sebagai reservoir air dan habitat hewan pengendali lingkungan. Jika memilih yang terakhir, maka pilihan ini akan memenuhi azas pembangunan yang berkelanjutan, dan wilayah yang kekeringan di musim kemarau tidak bertambah. Disamping itu, lumbung padi wilayah Pati akan tetap mendapat suplai air, dan kelelawar pengendali hama dan penyakit akan tetap lestari.

Sebandingkah nilai investasi yang ditanamkan dibandingkan dengan dampak dan kerugian yang bakal dialami? Debit air yang akan terus turun membuat bencana baru, kekeringan. Stok beras akan terus berkurang akibat berkurangnya pasokan air dan hama. Penyakit menular akan makin sulit dikendalikan karena binatang vektornya tidak memiliki predator.

Daftar Pustaka

Haryono, Eko. Phd. NILAI HIDROLOGIS BUKIT KARST.Makalah dalam seminar Nasional, Eko-Hidrolik, 28-29 Maret 2001, Teknik Sipil, UGM

Wiantoro, Sigit. S.Si. GUA LALAY: HUNIAN RATUSAN RIBU KELELAWAR., Artikel dalam blog http://cavernicoles.wordpress.com/2007/05/04/gua-lalay-hunian-ratusan-ribu-kelelawar/.

 

~ by Bukit Karst on 3 April 2008.

7 Responses to “SELAMATKAN KARST KABUPATEN PATI DAN GROBOGAN !!”

  1. BetuL!bagus sekali artikelnya!!ini yang aku cari!!moga aja para pejabat ngerti soal ini.mereka hanya melihat dari sisi lain karena telah dibutakan oleh uang, dan tidak peduli akan lingkungan dan rakyatnya.Malahan mereka menganggap orang-2 yang peduli pada lingkungannya adalah orang bodoh karena tidak bisa melihat peluang untuk maju.PADAHAL SIAPA YANG BODOH!!!justru para pejabat itulah yang bodoh!krn hnya melihat hal ini dari satu sisi saja.dan tidak tau dampak dari semua ini, kecuali dampak bagi mereka yang diperkaya karena proyek ini.

  2. jgn begitu mas…aku juga orang sukolilo tapi aku setuju karena dengan adanya pabrik semen, pendapatan per kapita akan naek dan dapat membuka lapangan pekerjaan.. setidaknya kesejahreraan masyarakat akan lebih baik. lokasi yang di tambang merupakan lahan yang tidak produktif dan yang tidak mengganggu keseimbangan alam..maka apa salahnya kita manfaatkan apa yang kita punya demi kemakmuran masyarakat????????

  3. Perusakan lingkungan dan polusi yang sangat mungkin terjadi, akibat pembangunan pabrik semen

    Perusakan lingkungan
    1. Penggundulan dan peledakan gunung kapur/ karst, penghancuran segala macam kehidupan hewani dan tumbuh-tumbuhan hayati, penghancuran fosil (tulang belulang) yang mungkin sangat bernilai bagi kehidupan dan pengetahuan manusia, (kapur merupakan bentukan utama dari fosil mahluk hidup).
    2. Perusakan serta pengalokasian daerah pertanian subur serta segala macam fasilitasnya yang telah ada.
    3. Konsumsi bahan bakar yang sangat besar, terutama untuk pemasakan bahan dasar (kapur dan lain-lain) menjadi terak (clinker).
    4. Konsumsi air tanah yang juga luar biasa besarnya, untuk konsumsi pabrik modern yang selalu butuh minimal sistem pendingin mesinnya. Ini tidak mungkin dicukupi hanya dari pengelolahan air sungai yang dibersihkan (selain mahal debit airnya tidak stabil), pasti masih dibutuhkan pengeboran air sumur dalam(artesis) dari tanah yang dalam jangka panjang menyebabkan kekeringan sumur penduduk sekitar dan rembesan air laut nantinya, yang semakin merusak kondisi tanah.
    Ini jelas tidak mendukung pelesarian hutan resapan air, pemanasan global, serta lapisan oksigen diudara.

    Polusi lingkungan
    1. Debu semen yang sulit diatasi hingga radius lebih dari 5 km, memang telah ada sistem penghisap debu yang cukup canggih didunia, dari dust collector sederhana hingga EP(electro precipitator) yang sudah ditemukan sejak tahun 1930an, dan terus menerus dikembangkan dan diperbaiki, tetapi kalau boleh jujur, hingga kini biaya operasionalnya masih lebih besar(boros listrik) dari semen yang ditangkap kembali, alias nilai ekonominya minus, kecuali bagi kesehatan dan dampak lingkungan. Apakah benar sang pengusaha bersedia menginvestasi alat tersebut serta menggunakannya secara konsisten? Sedangkan umumnya pengusaha besar memasang alat tersebut sekedar untuk kamuflase, karena selain investasi dan perawatan mahal, dalam kenyataan kita semua tahu belum pernah ada pengusaha yang betul-betul konsisten, konsekuen serta disiplin dalam pelaksanaan hal yang tidak secara langsung berakibat pada keuntungan.
    2. Getaran dan bisingnya suara alat2 besar dan berat, serta ledakan gunung batu kapur, terutama didaerah ring 1, tidak boleh ada bangunan rumah tinggal, alias bila semula ada penduduk harus direlokasi.
    3. Perusakan jalanan desa hingga kota sekitarnya, kemacetan dan lain-lain, diperlukan kepastian pembangunan jalan khusus yang tidak memakai jalan desa.
    4. Pembinaan bermacam jenis orang yang terkonsentrasi disatu daerah, keamanan, hiburan, adat istiadat dan lain-lain. Ini mau tidak mau akan mengubah wajah desa menjadi kota modern dengan segala aksesnya.
    5. Pabrik ini bukan pabrik padat karya biasa, sebab sangat diperlukan tenaga trampil, jadi tidak mungkin menampung penduduk desa secara sembarangan, bahkan untuk menjadi satpampun perlu pendidikan dan pengetahuan khusus. Untuk membina rakyat setempat, memberikan pendidikan bukan hal mudah, perlu diperbaiki tingkat ekonominya dulu sehingga menjadi cerdas otaknya, kemudian diberikan pendidikan cukup, dan itu pasti tidak akan mungkin diselesaikan dalam waktu singkat dan hanya oleh satu perusahaan raksasa sekalipun.

    Urgensi pendirian pabrik semen apakah untuk kepentingan nasional atau export, sedangkan yang saya pernah tahu, sudah banyak pabrik semen yang berorientasi export di pulau Jawa ini, sekalipun betul nilai jual semen di Indonesia lebih tinggi dari nilai export, tapi keuntungan dari nilai export tetap besar (berarti rakyat Indonesia sementara ini dikadali dengan harga tinggi?), kalau fungsinya untuk menimbun devisa apakah benar nilai jualnya sebanding dengan kerusakan yang diakibatkannya?

    Data teknis pembangunan semen bisa dilihat pada buku Cement Data Book karangan Walter H. Duda, biasanya diterbitkan dalam 2 bahasa Jerman dan Inggris.

    Kebaikan yang mungkin dibangun dengan adanya pabrik bernilai triliyunan adalah:
    1. Memicu pembangunan desa menjadi kota yang lebih modern, perputaran ekonomi akan bertambah, pemasukan asli daerah otomatis bertambah. Hanya disangsikan ini bisa dinikmati oleh penduduk setempat secara instant, karena biasanya mereka justru akan disingkirkan oleh para pendatang baru yang berebutan berinvestasi didaerah tersebut.
    2. Jadi kemajuan yang ada hanya akan dinikmati oleh para pemangku kepala pemerintahan daerah ditambah segelintir penduduk yang kebetulan sudah punya pemikiran maju dan berpendidikan relatif tinggi, bukan oleh petani yang umumnya kurang gizi dan berpendidikan rendah, yang selama ini memang selalu diabaikan oleh pemerintah kita sendiri.

  4. Sepertinya SG gak jadi ke Sukolilo lantaran izinnya di cabut gubernur jateng. Kini ganti ngelirik Tuban. Salut buat perjuangan anda2, meski hanya dlm postingan sekalipun.
    >>> http://alamendah.wordpress.com/2009/05/19/mantanku-semen-dan-air-di-sukolilo/

  5. semoga alam sukolilo tetap lestari. bukankah air sudah sangat mahal didunia ini.mengapa sukolilo tidak dijadikan wisata goa seperti gua gong di pacitan. sukolilo juga punya goa yang bagus bila dikelola pemda dengan baik. hanya saja sebagai masyarakat sukolilo saya merasa pemda Pati tidak pernah mempertimbangkan sukolilo sebagai sebagai kawasan yang bisa dikembangkan.bahkan daerah sukolilo sering disebut sebagai daerah spionase oleh para pejabat pati..pembangunan disukolilo bisa dibilang swadaya masyarakat sukolilo semua.dan kini pihak pro semen sengaja membikin ulah dengan pembangunan pasar sukolilo tanpa sosialisasi yang matang.apakah selamanya masyarakat sukolilo dibohongi terus…kami warga sukolilo cuma ingin keadilan dan pembangunan sesuai prosedur yang benar..tidak dengan cara mengerahkan para preman untuk menakuti para pedagang kecil yang rata rata penghasilan cuma sekitar 5 – 20 ribuan rupiah.

  6. faktor utama dari tarik ulur masalah ini adalah kurang tegasnya pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Meski selalu berjalan beriringan dengan stakehoulder yg ada, tetap saja pilihan jatuh pada uang sbagai sumber utama ‘kebutuhan perut’, yaitu tetap mebukakan jalan pada penambangan batu gamping/kapur. Pihak akademisi/peneliti yang konsen pada masalah tersebut sudah memberikan penjelasan ilmiah tentang keuntungan dan kerugian konservasi di kawasan karst (tulisan di atas sudah banyak memberi keterangan tentang itu). Tapi memang pada dasarnya manusia (khususnya di negara ini) cenderung lebih memilih apa yang menurut mereka bermanfaat untuk diri sendiri.

    Tulisan ini banyak manfaatnya, semoga terealisasi pemanfaatannya untuk pelestarian karst di Indonesia .

  7. kami anak bangsa hanya minta pemerintah daerah memperhatikan jalan2 di pedesan, memang sebagian kecil ada yang terserap untuk jadi tenaga kerja tapi yang tidak menjadi karyawan haruskah menerima dampak2 yang di timbulkan oleh pabrik tersebut,, seperti jalan yang rusak berat, polusi udara,, kebisingan dll. pemda harus lebih cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: